Bahan Pakan Itik 

Bahan baku pakan yang digunakan untuk ternak itik sebaiknya murah, tidak beracun, tidak asin, kering, tidak berjamur, tidak busuk/bau/apek, tidak menggumpal, mudah diperoleh dan palatable (KETAREN, 2001a dan 2001b).   Kandungan gizi bahan pakan yang umum dipakai untuk itik dapat dikelompokan berdasarkan kandungan gizinya. sumber energi utama adalah: menir, jagung, tepung ubi kayu dan tepung sagu, sedangkan sumber protein utama adalah tepung ikan dan bungkil kedelai
Ikan petek/rucah yang sering tersedia di tempat pelelangan ikan juga sudah biasa digunakan oleh peternak itik di pedesaan dalam bentuk basah yang dipotong kecil-kecil.   Tepung kepala udang dapat digunakan sebagai pakan ternak itik. RAHARDJO (1985) melaporkan bahwa tepung kepala udang dapat digunakan sebanyak 30% dalam pakan itik petelur tanpa efek negatif terhadap penampilan itik petelur. Dilaporkan bahwa penggunaan tepung kepala udang dalam ransum itik ternyata meningkatkan warna kuning telur menjadi lebih baik (kuning kemerahan).    
Peternak itik sudah biasa menggunakan keong yang ditumbuk segar sebagai sumber protein/Ca untuk itik yang mereka pelihara. Tepung keong (Achatina fulica) yang dibuat dari keong mentah mengandung 52% protein sedangkan keong rebus mengandung 32,7%. Keong mentah dapat digunakan sebanyak 15% dan tepung keong rebus dapat digunakan sebanyak 20% dalam pakan itik yang sedang tumbuh (MURTISARI et al. 1985). 
Siput murbei (Pomacea caniculata) yang merupakan hama bagi tanaman padi sudah menjadi bahan pakan itik sejak lama dipedesaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan 20% daging segar siput murbei atau pengganti sebanyak 20% tepung ikan dapat digunakan dalam pakan itik tanpa pengaruh negatif terhadap pertumbuhan itik jantan umur 3-7 minggu ( SUHENDI, 2002).   
Limbah pabrik sawit seperti bungkil inti sawit dan lumpur sawit yang tersedia banyak di Indonesia tetapi mengandung kadar serat kasar tinggi berpeluang dipakai sebagai pakan itik (BESTARI et al. 1992). Dikenal dua jenis limbah industri minyak sawit yaitu (1) bungkil inti sawit dan (2) lumpur sawit yang belum biasa digunakan sebagai pakan itik di Indonesia. Hal ini disebabkan karena tingginya serat kasar, atau terkontaminasi tempurung sawit serta rendahnya palatabilitas limbah tersebut untuk itik. Fermentasi bungkil inti sawit maupun lumpur sawit ternyata dapat meningkatkan kadar protein inti sawit dari 14,19% menjadi 25,06% serta menurunkan serat kasar dari 21,27% menjadi 19,75%. Fermentasi lumpur sawit juga meningkatkan kandungan protein kasar dari 11,94% menjadi 22,6% dan menurunkan kandungan serat (NDF) dari 62,8% menjadi 52,1%. Penggunaan limbah sawit untuk itik disarankan tidak lebih dari 20% dalam pakan itik ( SINURAT, 2000).
Bungkil kelapa sangat jarang digunakan sebagai bahan pakan itik karena kekawatiran akan kandungan aflatoxinnya yang berbahaya terhadap kesehatan itik. Walaupun demikian SINURAT et al. (1996) melaporkan bahwa 30% bungkil kelapa dalam pakan itik yang sedang tumbuh tidak berpengaruh negatif terhadap penampilan itik. Dianjurkan agar bungkil kelapa yang dipergunakan haruslah bebas dari jamur Aspergillus flavus yang memproduksi racun aflatoxin yang membahayakan kesehatan dan produksi ternak itik.   
TANGENDJAJA et al. (1986) melaporkan bahwa kemampuan itik mencerna pakan lebih baik dari ayam . Dedak padi dapat diberikan kepada itik sampai 75% tanpa mempengaruhi bobot badan, konsumsi pakan dan konversi pakan (FCR). Tetapi dedak padi hanya dapat dipakai kurang dari 60% dalam pakan ayam karena pemberian dedak padi lebih dari 60% akan menurunkan pertumbuhan ayam. Hal ini disebabkan oleh peningkatan kandungan serat kasar didalam pakan yang mengandung dedak padi tinggi. Begitupula diduga itik lebih mampu mencerna serat kasar dibanding ayam. SINURAT et al. (1993b) sebaliknya melaporkan bahwa dedak padi hanya dapat diberikan pada itik Pekin tidak lebih dari 40% karena akan menurunkan FCR. Mereka juga melaporkan bahwa pakan bentuk pelet meningkatkan FCR karena proses pembuatan pelet cenderung meningkatkan daya cerna gizi pakan. 
Untuk penggemukan itik, SINURAT (1993a) melaporkan bahwa dedak padi sebanyak 30-45% dengan tingkat energi pakan sebanyak 2.700 kkal EM/kg dapat dipakai tanpa mempengaruhi penampilan itik. Kandungan serat kasar pakan itik tidak boleh lebih dari 12%.   Penggunaan tepung ubi kayu dalam pakan itik sebagai sumber energi, dapat dipakai sebanyak 30%. Kandungan gizi terutama protein dalam ransum perlu diperhatikan jika menggunakan tepung ubi kayu dalam jumlah tinggi karena kandungan proteinnya rendah (HUTAGALUNG, 1977 dan KETAREN,1982). Kandungan protein tepung ubi kayu dapat ditingkatkan melalui proses fermentasi. Cassapro yang dihasilkan dari fermentasi ubi kayu dengan menggunakan Aspergillus niger dapat digunakan sebanyak 10% dalam pakan itik. Protein kasar ubi kayu meningkat dari 3% menjadi 36,7% setelah ubi kayu difermentasi (PURWADARIA, 1996). Selanjutnya sagu atau aren yang sudah dicingcang dan dikeringkan dapat digunakan sebagai sumber energi untuk itik yang sedang tumbuh tidak lebih dari 25% (RAHARDJO dan WINARSO, 1987).
Satu lagi bahan pakan yang memiliki kandungan gizi tinggi dan tersedia secara kontinu adalah polard. Polard yang merupakan hasil samping dari penggilingan gandum menjadi tepung terigu. Kami menawarkan polard cap Angsa dari bogasari. 

Pollard Cap angsa

No comments