Bahan baku pakan sebagai sumber protein Nabati



Bahan baku pakan sebagai sumber protein nabati antara lain :

· Bungkil Kelapa

Bahan pakan ini merupakan hasil sisa pengolahan minyak kelapa. Daging kelapa yang dikeringkan sampai kandungan airnya dibawah 6% disebut kopra. Setelah kopra diambil minyaknya, maka bahan yang tersisa disebut bungkil kelapa. Tergantung dari cara pengambilan minyak, ada dua jenis bungkil kelapa. Yang pertama dihasilkan dari proses pengambilan minyak secara ekstraksi dengan zat pelarut, hasilnya disebut extracted coconut oil. Yang kedua dihasilkan dari proses pengambilan minyak secara ekstraksi dengan dipres, hasilnya disebut expeller coconut oil. Penyimpanan bungkil kelapa dalam suhu tinggi akan mempercepat proses ketengikan. Oleh karena itu harus diyakinkan bahwa bungkil kelapa yang akan digunakan dalam ransum ayam tidak dalam keadaan tengik, karena dapat menyebabkan diare. Bungkil kelapa dapat digunakan dalam ransum untuk ayam semua umur.




Gambar 1. Bungkil Kelapa
(Dokumentasi Tutik Nuryati, 2013)



Karena sudah diambil minyaknya, maka kandungan protein bungkil kedelai lebih tinggi dari pada kedelainya sendiri yaitu sekitar 50%. Bungkil kedelai merupakan sumber asam amino esensial yang baik bagi ayam. Kandungan energi metabolismenya juga tidak terlalu rendah kira-kira 2200 kkal/ kg. Bungkil kedelai dapat digunakan dalam ransum ayam semua umur.

  

 
Gambar 2. Bungkil Kedelai
(Dokumentasi Tutik Nuryati, 2013)

· Kacang kedelai

Kacang kedelai utuh dapat juga digunakan sebagai bahan baku pakan ternak karena ketersediaannya di dalam negeri cukup memadai. Kecenderungan pasar dunia yang semakin membutuhkan bungkil kedelai telah menaikkan harganya, sehingga saat ini harga bungkil kedelai lebih mahal daripada kacang kedelai utuh.


 


Gambar 3. Kedelai
(Dokumentasi Tutik Nuryati, 2013)

Akhir-akhir ini telah ada suatu usaha untuk tetap mempertahankan kandungan minyak dalam biji kedelai. Kendala pemanfaatan kacang kedelai adalah kandungan racun alami yang terdapat di dalamnya. Racun alami tersebut berupa zat anti tripsin, yaitu zat yang dapat menghambat kerja enzim tripsin dalam menyintesis protein, sehingga akan menyebabkan pertumbuhan ayam terhambat. Meskipun demikian, racun tersebut dapat dihilangkan melalui proses pemanasan. Bahan ini mengandung protein sekitar 37 - 38%, sama dengan protein biji kedelai tetapi karena minyaknya tidak diambil, maka kandungan energinya lebih tinggi dari pada bungkil, yaitu sekitar 3300 – 3.510 kkal/kg; lemak 17,9%; serat kasar 5,7%. Karena bahan pakan sudah tidak lagi mengandung tripsin inhibitor maka pemakaian dalam ransum tidak terbatas.


· Bungkil kacang tanah

Bungkil kacang tanah mengandung asam amino methionin dan lisin yang rendah. Penggunaannya dalam pakan ayam tidak terbatas. Bungkil kacang tanah sangat mudah berjamur. Toxin yang sering terdapat dalam bungkil kacang tanah, yaitu aflatoxin yang dihasilkan oleh jamur Aspergillus flavus. Toxin ini dapat menyebabkan ayam kehilangan nafsu makan sehingga menurunkan laju pertumbuhan. Oleh karena itu bungkil kacang tanah yang berjamur sebaiknya tidak digunakan dalam pakan ayam. 



 

Gambar 4. Bungkil Kacang Tanah

(Dokumentasi Tutik Nuryati, 2013)

Kandungan energi metabolismenya sebesar 2.210 kkal/kg dan protein kasarnya 24 – 47%. Kendala pemakaian bahan baku ini adalah ketersediaannya mengandalkan impor. Selain itu, kandungan serat kasar yang cukup tinggi membatasi penggunaannya. Dua kendala ini masih ditambah lagi dengan sedikitnya kandungan asam amino esensial. Jika lokasi peternakan di dekat pabrik minyak kacang tanah, kendala ketersediaan dapat diatasi dengan memanfaatkan limbah atau bungkilnya. Kelebihan bungkil kacang tanah ini adalah meningkatkan palatabilitas. Ternak unggas menyukai aroma bahan baku ini.


· Bungkil biji kapuk

Bungkil biji kapok mengandung lignin tinggi dan mempunyai kecernaan rendah. Disamping itu mengandung zat anti nutrisi gossipol yang merugikan bagi ternak. Ayam dapat mentolerir gossipol bebas dari pakan sebanyak 0,01%. Penggunaan bungkil biji kapok dalam pakan tergantung pada jumlah gossipolnya.

Bahan baku ini mempunyai kandungan protein yang cukup tinggi, sekitar 25 – 30%. Namun, lagi-lagi kendalanya adalah kandungan serat kasarnya cukup tinggi, mencapai 25%. Karena itu, jika ketersediaannya memadai, bisa digunakan untuk bahan baku pakan hanya sampai 3%. Itu pun hanya untuk tternak unggas dewasa sebagai pakan finisher. umumnya bahan baku ini digunakan sebagai pakan ternak ruminansia, seperti sapi potong dan sapi perah.


 

Gambar 5. Bungkil Biji Kapuk

(Dokumentasi Tutik Nuryati, 2013)
· Ampas kecap

Ampas kecap adalah buangan dari proses pembuatan kecap. Sayang jika limbah ini tidak dimanfaatkan, mengingat kandungan nutrisinya yang cukup baik. Untuk dapat digunakan menjadi bahan baku pakan, ampas kecap

harus dikeringkan terlebih terlebih dahulu dan digiling menjadi tepung. Nilai nutrisi yang terkandung di dalamnya, protein 24,9% dan lemak 24,3%.
· Bunga Biji Matahari

Nilai nutrisinya tergantung dari cara pengolahan. Bungkil biji bunga matahari mengandung lisin dengan availitabilitas yang rendah. Penggunaannya dalam pakan ayam tidak terbatas.

· Tepung daun lamtoro

Di Indonesia, daun lamtoro atau ipil-ipil kadang kala digunakan dalam ransum ayam. Ditinjau dari kandungan proteinnya, daun lamtoro lebih baik dibandingkan dengan alfafa, berkisar antara 22 - 34%. Daun lamtoro juga merupakan sumber beta caroten yang baik, yang penting pada warna kuning telur. Tetapi karena adanya kandungan mimosin, maka penggunaannya dalam ransum ayam menjadi terbatas. Untuk anak ayam disarankan tidak lebih dari 5% sedangkan untuk ayam petelur dapat digunakan sampai 15%.


Apabila di daerah peternak banyak dijumpai pohon lamroro, akan sangat menguntungkan jika bisa dibuat tepung daun lamtoro. Bahan ini dapat digunakan sebagai sumber protein nabati yang cukup baik untuk campuran pakan ternak. Selain itu, kandungan xanthophylnya cukup baik sekitar 660 ppm. Nilai ini jauh di atas kandungan xanthophyl jagung, sekitar 20 ppm. Oleh karena itu, tepung daun lamtoro dapat juga digunakan sebagai pewarna kuning di bagian kaki dan kulit ayam ras pedaging.


Proses pembuatan tepung daun lamtoro cukup sederhana. Daun lamtoro dikeringkan dengan bantuan sinar matahari, sekaligus untuk menghilangkan zat mimosin atau zat yang dapat menyebabkan kerontokan bulu unggas, lalu ditumbuk atau digiling menjadi tepung. Dalam industri pakan, umumnya bahan baku ini tidak digunakan karena kesulitan pengadaannya dan tidak ada jaminan kemurniannya (sering dipalsukan). Namun, jika di daerah peternak banyak didapatkan pohon lamtoro, sangat baik jika dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan. Jika dibuat tepung, daun lamtoro akan menghasilkan rendemen 30% dari bobot daun basah.



 


 Gambar 6. Lamtoro Gung (Leucaena leucocephala)

(Dokumentasi Tutik Nuryati, 2013)

· Alfafa

Di Indonesia, daun lamtoro atau ipil-ipil, alfafa kadang kala digunakan dalam ransum ayam. Ditinjau dari kandungan proteinnya, daun lamtoro lebih baik dibandinkan dengan alfafa, berkisar antara 22 - 34%. Daun lamtoro juga merupakan sumber beta caroten yang baik, yang penting pada warna kuning telur. Tetapi karena adanya kandungan mimosin, maka penggunaannya dalam ransum ayam menjadi terbatas. Untuk anak ayam disarankan tidak lebih dari 5% sedangkan untuk ayam petelur dapat digunakan sampai 15%.



 


 Gambar 7. Bibit Alfafa
(Dokumentasi Tutik Nuryati, 2013)


 

Gambar 8. Alfafa Kering
(Dokumentasi Tutik Nuryati, 2013)


 
Gambar 9. Alfafa Segar
(Dokumentasi Tutik Nuryati, 2013)

· Lupin

Legum ini mungkin tidak tumbuh di Indonesia, tetapi banyak tumbuh di negara lain seperti Australia, amerika, dll.

· Chick Pea

Bahan pakan ini banyak ditanam di beberapa di dunia ini untuk kebutuhan konsumsi manusia. Bijinya banyak mengandung lisin, tetapi miskin akan asam amino yang mengandung belerang dan triptophan.


· Kacang Hijau

Kacang hijau miskin akan asam amino yang mengandung belerang dan triptophan. Kacang hijau ini jarang digunakan sebagai campuran bahan pakan.

- Corn Gluten Meal (CGM)


CGM merupakan limbah pengolahan minyak jagung, menurut referensi lainnya merupakan hasil sampingan dari wet milling proses dari hasil sampingan pembuatan corn starch dan corn syrup. Dalam buku profil pakan impor disebutkan bahwa Corn gluten meal memiliki kandungan protein yang tinggi dan berserat rendah sehingga bermanfaat digunakan pakan broiler yang membutuhkan energi dan protein tinggi sehingga bersaing dengan protein hewani. Meski demikian kandungan asam amino hasil samping terutama lisin dan triptopan relatif rendah dan belum dapat memenuhi kebutuhan ayam dan babi, sehingga perlu penambahan bungkil kedelai yang tinggi kandungan lisin dan triptofannya. Selain itu Corn gluten meal juga mengandung karotenoid yang relatif tinggi yang bermanfaat memberi warna kuning pada telur dan warna kaki pada ayam broiler, sehingga bahan tersebut banyak digunakan dalam ransum ayam. Nilai TDN-nya lebih sedikit dari pada jagung dan serat kasar tertinggi adalah 5% dan terendah TDN-nya 78%.

No comments